Ciri Kebahasaan Teks Eksposisi

Teks eksposisi merupakan teks yang berfungsi mengungkapkan gagasan atau mengusulkan sesuatu menurut argumentasi yang kuat. Tujuan Teks Ekposisi ialah sebagai penjelas terkait gosip tertentu semoga sanggup menambah wawasan pembaca sehingga dengan adanya teks eksposisi ini pembaca akan mendapatkan pengetahuan secara rinci dari suatu hal maupun kejadian.

Biasanya penyajian teks eksposisi mempunyai ciri-ciri khusus untuk membedakan dengan jenis teks lainnya. Bagaimana cara kita semoga sanggup mengetahui bahwa teks tersebut merupakan teks eksposisi atau bukan ? Salah satu cara untuk mengetahui teks tersebut ialah teks eksposisi atau bukan ialah dengan cara mengetahui ciri-ciri kebahasaannya.

Untuk mengetahui ciri kebahasaan teks eksposisi berikut ini salah satu contoh teks eksposisi.

“Kegembiraan dalam Belajar”
Ahmad Baedowi , Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta
Media Indonesia, 09 November 2015
StrukturKalimat
Pernyataan pendapat (tesis)Saya (pronomina) sering memperlihatkan pertanyaan kepada guru dan siswa perihal makna pengalaman berguru (learning experience). Rata-rata balasan mereka ialah kurangnya kegembiraan dalam belajar. Memang, baik guru maupun siswa mengenal istilah fun learning, tetapi implementasinya jauh dari memadai. Banyak guru sekadar mencari kesenangan dalam berguru dengan cara mengajak siswa bermain, menari, dan bernyanyi. Namun jarang sekali dari mereka memahami hakikat kegembiraan dalam berguru (joyful learning). Pasalnya, apa yang mereka rekayasa dalam bentuk permainan tidak nyambung (out of context) dengan bidang studi yang diajarkan.
ArgumentasiKegembiraan anak dalam berguru sebetulnya merupakan hak mendasar yang
harus diberikan sepenuhnya. Kegembiraan bukan semata-mata memperlihatkan mereka permainan di luar ketika mereka berguru tanpa tujuan yang jelas, melainkan sebuah cara yang menyatu dengan tujuan pembelajaran berjangka panjang. Banyak sekolah contohnya menghabiskan begitu banyak waktu untuk bermain, tetapi tak bertujuan serta menciptakan aktivitas kunjungan sekolah hanya pada waktu libur. Kegembiraan hanya berlangsung sesaat. Bagi para siswa, tentu saja permainan dan kunjungan wisata yang hanya sesekali itu malah memperlihatkan mereka beban karena begitu mereka kembali ke sekolah, hanya kebosanan yang mereka dapatkan.
Teks eksposisi merupakan teks yang berfungsi mengungkapkan gagasan atau mengusulkan sesuat Ciri Kebahasaan Teks Eksposisi
Salah satu contoh kebosanan mereka dalam berguru sanggup terlihat, misalnya, ketika jam berguru selesai. Semuanya bersorak dan ingin cepat pulang, atau ketika mereka mendapatkan hari libur. Semuanya merupakan penanda bahwa sekolah dan berguru merupakan kegiatan yang melelahkan, membosankan, bahkan menyebalkan. Jika kenyataan-kenyataan ini diperoleh belum dewasa kita, apa yang akan terjadi dengan perkembangan jiwa mereka di masa datang.

Beberapa hasil riset perihal perkembangan mental dan kejiwaan belum dewasa yang dialami ketika mereka berguru memperlihatkan secara konsisten dan kuat bahwa kurangnya keceriaan dan kegembiraan dalam berguru besar lengan berkuasa terhadap kesuksesan masa depan seorang anak. Dalam laporan Center on the Developing Child (2007) ditunjukkan secara khusus bahwa imbas berguru yang menggembirakan sanggup meningkatkan kapasitas arsitektur otak anak, yaitu pada saatnya otak tersebut akan memperlihatkan imbas yang baik dalam membentuk sikap sosial dan emosi anak yang cerdas. Ini artinya, pengalaman berguru anak, jikalau terjadi secara benar sanggup membentuk jalan bagi tumbuhnya motivasi berguru secara benar.

Jika di masa depan kita menginginkan tumbuhnya karakter jujur dan kesalehan sosial yang kuat pada diri seorang anak, pendampingan terhadap proses berguru yang menggembirakan dan menyatu dengan tema yang diajarkan secara kontekstual penting dilakukan. Penelusuran secara longitudinal terhadap keberhasilan seorang anak memperlihatkan jejak yang kuat bahwa pengenalan konsep ilmu dan pendampingan orang pintar balig cukup akal menjadi dua hal yang signifikan untuk dilakukan secara benar.

Dengan demikian, berguru dengan bangga dan ceria yang terprogram dan terpola secara baik dan berkesinambungan harus ditata secara baik dan benar dalam sebuah rangkaian yang tidak terpisahkan dengan setiap bidang studi yang diajarkan (Schweinhart et al, 2005). Namun demikian, masih banyak kita lihat kesalahan mendasar terjadi dalam proses meletakkan kegembiraan dalam belajar.

Beberapa kesalahan itu terlihat dalam proses berguru yang secara umum dikuasai tuntutan perkembangan kapasitas akademik anak sehingga anak tak memperoleh pengalaman berguru yang autentik menurut konteks sosial dan budaya yang terjadi di tengah-tengah kehidupannya. Selain itu, tak sedikit dijumpai paradigma yang salah dari para pendidik yang memandang pengalaman berguru (learning experience) sebagai sebuah kondisi yang sepenuhnya di bawah kendali dan dipegang guru.

Jika secara definitif makna pengalaman berguru ialah sebuah proses berguru itu selalu sesuai dengan kondisi faktual yang dialami para siswa, kegembiraan dalam berguru yang terstruktur dan inovatif merupakan kebutuhan yang harus dimiliki setiap guru. Ralph Tyler dalam Basic Principles of Curriculum and Instruction (1926) mendefinisikan pengalaman berguru dengan kalimat berikut, “The term learning experience is not the same as the content with which a course deal nor the activities performed by the teacher. The term learning experience refers to the interaction between the learner and the external conditions of the environment to which he can react. Learning takes place through the active behavior of the student; it is what he does that he learns, not what the teacher does”. Jelas sekali bahwa pemaknaan pengalaman berguru yang salah lebih banyak disebabkan faktor guru yang tak mempunyai kreativitas dalam merancang pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan.

Pentingnya pemahaman yang benar perihal pengalaman berguru anak terperinci akan memperlihatkan imbas terhadap kemampuan anak di masa depan. Jika anak dididik menurut sasaran perkembangan kognisinya semata, kekhawatiran terhadap masa depan Indonesia akan mempunyai cukup alasan. Meskipun dalam naskah akademik Kemendikbud perihal pendidikan anak usia dini, misalnya, menyisir paradigma filsafat pendidikan pragmatisme, pemerintah dengan tegas meminta semoga para pendidik dihentikan memaksakan suatu pandangan gres atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kebutuhan penerima didik.

Dari sisi ini, penilaian terhadap tenaga pengajar yang tidak memahami makna pengalaman berguru dan arti pentingnya bagi masa depan pertumbuhan anak menjadi wajib untuk dilakukan.
Penegasan ulang pendapatDengan berkaca pada hasil-hasil riset tersebut, terperinci sekali harus ada niat baik dari para penggerak dan praktisi pendidikan untuk mengubah gaya mengajar mereka menjadi lebih kreatif. Contextual based learning harus menjadi pola dalam proses berguru mengajar yang menggembirakan semoga belum dewasa tumbuh dan berkembang dengan karakter yang kuat, kecerdasan yang memikat, serta kepedulian terhadap sesama yang mengikat rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa.

Dalam menulis sebuah teks eksposisi ada beberapa kaidah yang harus dipenuhi. Diantara kaidah-kaidah yanng harus terpebuhi tersebut diantaranya ialah pronomina, verba, konjungsi, dan argumentasi satu sisi. Berikut ini ialah ciri kebahasaan teks eksposisi.

A. Pronomina
Pronomina biasanya dipakai dalam menyatakan pendapat. Pronomina persona yang sering dipakai menyerupai kita, kami, dan saya. Terlebih kata pronomina persona saya banyak dipakai ketika menyatakan pendapat pribadi. Contoh:
  1. Saya sering memperlihatkan pertanyaan kepada guru dan siswa perihal makna pengalaman berguru (learning experience).
  2. Rata-rata balasan mereka ialah kurangnya kegembiraan dalam belajar.

B. Verba
Verba yang dipakai ialah yang menyatakan persepsi, menyerupai percaya dan meyakini. Verba tersebut dipakai untuk mengubah persepsi pembaca semoga mendapatkan pendapat penulis. Contoh:
Saya percaya, pentingnya pemahaman yang benar perihal pengalaman berguru anak jelas
akan memperlihatkan imbas terhadap kemampuan anak di masa depan.

C. Konjungsi
Konjungsi yang banyak dipakai ialah yang menghubungkan fakta-fakta sehingga tersaji runtut (pada kenyataannya, kemudian, dan lebih lanjut) dan konjungsi yang menyatakan alasannya ialah akhir (sebab, karena, sehingga, oleh alasannya ialah itu, oleh lantaran itu) Contoh:
  1. Bagi para siswa, tentu saja permainan dan kunjungan wisata yang hanya sesekali itu malah memperlihatkan mereka beban karena begitu kembali ke sekolah, hanya kebosanan yang didapatkan.
  2. Beberapa kesalahan itu terlihat dalam proses berguru yang secara umum dikuasai tuntutan perkembangan kapasitas akademik anak sehingga anak tak memperoleh pengalaman berguru yang autentik menurut konteks sosial dan budaya yang terjadi di tengah-tengah kehidupannya.

D. Argumentasinya Satu Sisi
Argumentasi satu sisi yaitu sisi yang mendukung atau menolak. Contoh:
  1. Kegembiraan anak dalam berguru sebetulnya merupakan hak mendasar yang harus diberikan sepenuhnya. (mendukung)
  2. Beberapa kesalahan itu terlihat dalam proses berguru yang secara umum dikuasai tuntutan perkembangan kapasitas akademik anak sehingga anak tak memperoleh pengalaman berguru yang autentik menurut konteks sosial dan budaya yang terjadi di tengah-tengah kehidupannya. (menolak)
  3. Selain itu, tak sedikit dijumpai paradigma yang salah dari para pendidik yang memandang pengalaman berguru (learning experience) sebagai sebuah kondisi yang sepenuhnya di bawah kendali dan dipegang guru. (menolak)

E. Kohesi
Kohesi ialah keterkaitan antar-unsur dalam struktur sintaksis atau struktur wacana yang ditandai antara lain oleh konjungsi, repetisi, dan pelesapan. Contoh:
Kegembiraan anak dalam berguru sebetulnya merupakan hak mendasar yang harus diberikan sepenuhnya. Kegembiraan bukan semata-mata memperlihatkan mereka permainan di luar ketika mereka berguru tanpa tujuan yang jelas, melainkan sebuah cara yang menyatu dengan tujuan pembelajaran berjangka panjang. Banyak sekolah, misalnya, menghabiskan begitu banyak waktu untuk bermain, tetapi tak bertujuan serta menciptakan aktivitas kunjungan sekolah hanya pada waktu libur. Kegembiraan hanya berlangsung sesaat. Bagi para siswa, tentu saja permainan dan kunjungan wisata yang hanya sesekali itu malah memperlihatkan mereka beban lantaran begitu mereka kembali ke sekolah, hanya kebosanan yang mereka dapatkan.

F. Koherensi
Koherensi ialah korelasi logis antarbagian karangan atau antarkalimat dalam satu paragraf. Contoh:
Salah satu contoh kebosanan mereka dalam berguru sanggup terlihat, misalnya, ketika jam berguru selesai. Semuanya bersorak dan ingin cepat pulang, atau ketika mereka mendapatkan hari libur. Semuanya merupakan penanda bahwa sekolah dan berguru merupakan kegiatan yang melelahkan, membosankan, bahkan menyebalkan. Jika kenyataan-kenyataan ini diperoleh anak-anak kita, apa yang akan terjadi dengan perkembangan jiwa mereka di masa datang.

G. Kata Baku dan Ejaan
Kata baku dan ejaan bahasa Indonesia yang sempurna merupakan unsur kebahasaan teks eksposisi lantaran teks tersebut merupakan karya ilmiah.

1. Kata baku ialah kata yang sudah distandardisasikan. Contoh:
Jelas sekali bahwa pemaknaan pengalaman berguru yang salah lebih banyak disebabkan faktor guru yang tak mempunyai kreativitas dalam merancang pembelajaran yang berkualitas dan menyenangkan.

2. Ejaan
Ejaan ialah kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi (kata, kalimat, dan sebagainya) dalam bentuk goresan pena (huruf-huruf) serta penggunaan tanda baca. Teks eksposisi ditulis dengan kaidah ejaan bahasa Indonesia yang benar, contohnya penulisan abjad kapital, abjad miring, angka dan lambang bilangan, kependekan dan singkatan, tanda baca (titik, koma, titik dua, dan lain-lain), penulisan partikel (–lah,-tah,-kah,-pun), dan campuran kata. Pada cuilan ini kita hanya akan membahas beberapa tanda baca yang produktif.

Tidak ada komentar untuk "Ciri Kebahasaan Teks Eksposisi"